Mahasiswa dan Etika Bermedia Sosial: Belajar dari Pemikiran Immanuel Kant
13 November 2025
Serang - Media sosial sudah jadi bagian penting dalam kehidupan mahasiswa masa kini. Dari tempat
13 November 2025
Serang - Media sosial sudah jadi bagian penting dalam kehidupan mahasiswa masa kini. Dari tempat
Serang – Media sosial sudah jadi bagian penting dalam kehidupan mahasiswa masa kini. Dari tempat berbagi informasi, curhat, sampai menyalurkan opini, semuanya bisa dilakukan dalam hitungan detik. Tapi, di balik kemudahan itu, ada satu hal yang sering terlupakan yaitu etika.
Kebebasan berekspresi yang luas kadang disalahgunakan. Banyak pengguna media sosial yang asal bicara, menyebar hoaks, bahkan menyerang orang lain hanya karena perbedaan pendapat. Akibatnya, ruang digital yang seharusnya jadi tempat bertukar ide malah berubah jadi arena perdebatan yang tidak sehat.
Di sinilah, pemikiran Immanuel Kant, seorang filsuf asal Jerman jadi menarik buat dikulik. Kant percaya bahwa setiap tindakan manusia seharusnya dilakukan karena kesadaran moral, bukan karena takut dihukum atau ingin dipuji. Ia memperkenalkan konsep imperatif kategoris, yaitu prinsip bahwa kita harus bertindak dengan cara yang bisa dijadikan aturan umum bagi semua orang.
Kalau diterapkan di dunia media sosial, prinsip ini bisa diartikan sederhana: sebelum posting sesuatu, pikir dulu kalau semua orang melakukan hal yang sama, apakah dunia digital bakal lebih baik atau malah kacau? Kalau semua orang jujur dan menghormati satu sama lain, media sosial bisa jadi tempat yang positif. Tapi kalau semua orang saling menjatuhkan, maka dunia maya akan dipenuhi kebencian dan perpecahan.
Kant juga menekankan bahwa manusia tidak boleh dijadikan alat untuk mencapai tujuan, tapi harus dihargai sebagai tujuan itu sendiri. Artinya, menggunakan media sosial hanya untuk mencari popularitas, sensasi, atau menyerang orang lain demi keuntungan pribadi jelas bertentangan dengan nilai moral ini.
Sebagai mahasiswa, kita punya peran besar dalam membangun budaya digital yang lebih etis. Mahasiswa harus jadi contoh dalam menggunakan media sosial dengan bijak: menyebarkan informasi yang benar, menghormati perbedaan, dan menghindari komentar negatif yang tidak membangun.
Media sosial seharusnya jadi ruang untuk memperluas wawasan, bukan tempat untuk menebar kebencian. Seperti yang diajarkan Immanuel Kant, tindakan yang baik lahir dari niat dan kesadaran moral. Jadi, sebelum menekan tombol “posting”, pastikan dulu kalau yang kita bagikan membawa manfaat, bukan masalah.
Kalau mahasiswa bisa menerapkan etika Kantian ini dalam keseharian digital, bukan nggak mungkin media sosial bisa jadi ruang yang lebih cerdas, beradab, dan manusiawi.
Penulis : Amanda Safira, Mahasiswa Universitas Pamulang Kampus Serang
Serang – Banyak orang memahami pendidikan hanya sebagai angka di rapor, peringkat kelas, atau hasil
Baca Selengkapnya
Serang – Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir 2025 tidak lagi
Baca Selengkapnya
Serang – Kota Serang, sebagai ibu kota Provinsi Banten, saat ini tengah menghadapi krisis identitas
Baca Selengkapnya
Serang – Pemikiran Adam Smith kerap dipuji sebagai fondasi ekonomi modern. Namun, menjadikannya rujukan utama
Baca Selengkapnya
Serang – Cesium-137, sebagai isotop radioaktif buatan yang berasal dari aktivitas nuklir dan pencemaran industri,
Baca Selengkapnya
Serang – Banjir yang kembali melanda berbagai wilayah di Sumatra bukan sekadar bencana alam, melainkan
Baca Selengkapnya
Serang – Di tengah meningkatnya tuntutan pelayanan publik yang cepat, transparan, dan profesional, kualitas kinerja
Baca Selengkapnya
Serang – Adam Smith sering dianggap sebagai tokoh yang mendorong individualisme ekstrem. Namun, karya-karyanya justru
Baca Selengkapnya
Serang – Indonesia membutuhkan peningkatan mental dan fisik untuk menghadapi pergeseran zaman yang cepat. Dalam
Baca Selengkapnya
Cilegon – Polemik seputar Bandara Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Sulawesi Tengah belakangan ini
Baca Selengkapnya