Selat Sunda, Anak Krakatau, dan Penantian yang Belum Usai
11 September 2026
Pandeglang - Selat Sunda kini bukan sekadar bentangan air yang memisahkan dua pulau; ia menjelma
11 September 2026
Pandeglang - Selat Sunda kini bukan sekadar bentangan air yang memisahkan dua pulau; ia menjelma
Pandeglang – Selat Sunda kini bukan sekadar bentangan air yang memisahkan dua pulau; ia menjelma menjadi saksi bisu atas dua kekuatan alam yang menggentarkan, gemuruh perut bumi dan misteri lautan yang merahasiakan delapan nyawa.
Di tengah lautan lepas Selat Sunda, Gunung Anak Krakatau berdiri pongah dengan status Level III (Siaga). Sejak rentetan erupsi menerus yang membelah keheningan malam pada 4 September lalu, gunung itu belum benar-benar tertidur. Dentuman Strombolian masih memuntahkan pijar api ke angkasa, diiringi gempa vulkanik dalam yang mengisyaratkan bahwa magma masih terus mendesak naik. Di bawah bayang-bayang ancaman awan panas dan lontaran batu pijar itulah raga 5 pewarta, 2 ABK, dan 1 pemandu masih misteri.
Senin, 7 September 2026. Angin berembus membawa aroma belerang tipis ketika sebuah rombongan bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, tepat pukul 14.00 WIB. Mereka bukan nelayan yang mencari ikan, bukan pula turis yang berburu senja. Rombongan itu membawa napas kebenaran: lima orang jurnalis, dua anak buah kapal (ABK), dan satu pemandu. Tujuan mereka sangat jelas dan penuh risiko, yakni mendekati kawasan Anak Krakatau yang tengah bergejolak. Di saat masyarakat diimbau menjauh dari radius tiga kilometer, para pewarta ini justru melangkah mendekat. Mereka mempertaruhkan keselamatan demi satu marwah luhur: merekam denyut nadi alam agar publik di daratan yang aman bisa mendapatkan informasi dan peringatan yang akurat.
Lautan tampaknya punya kehendaknya sendiri. Pada pukul 14.42 WIB, posisi terakhir mereka masih terpantau, membelah gelombang menuju sang gunung api. Dua puluh dua menit kemudian mereka masih bertukar kabar. Hingga segalanya berubah menjadi kehampaan. Pukul 18.03 WIB, komunikasi terputus total. Tidak ada jerit kepanikan yang terekam radio, tidak ada sandi mayday yang merobek frekuensi darurat, dan tak ada saksi mata yang melihat lambung kapal karam. Delapan nyawa itu terputus begitu saja tanpa kabar lanjutan, diselimuti kabut dan embusan angin barat laut, meninggalkan ruang redaksi dalam senyap dan keluarga dalam debar jantung yang menyiksa.
Kini, Selat Sunda menjadi panggung operasi pencarian yang berpacu melawan waktu dan amarah alam. Raung helikopter membelah langit yang kadang tertutup kabut vulkanik, sementara drone tanpa lelah menyisir lekuk-lekuk pesisir sunyi seperti Pulau Sertung yang masuk dalam cagar alam Krakatau.
Di permukaan laut, tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, hingga nelayan lokal memperluas daya jelajah hingga 20 nautical mile (NM) ke arah selatan sebelum arus dan angin memaksa mereka melebarkan pencarian hingga ke perairan Lampung. Setiap manuver perahu karet dilakukan dengan kehati-hatian tingkat tinggi, sebab mereka beroperasi di bibir zona merah; sebuah tarian maut di luar radius tiga kilometer dari kawah yang sewaktu-waktu bisa memuntahkan lava dan hujan abu lebat.
Di tengah penyisiran yang melelahkan itu, secercah petunjuk muncul mengoyak emosi: sebuah benda yang diduga pelampung atau jaket keselamatan ditemukan mengambang. Benda bisu itu lalu diidentifikasi. Apakah itu milik mereka? Ataukah sekadar sampah laut yang mempermainkan harapan? Ketidakpastian inilah yang menjadi ujian paling brutal bagi keluarga yang menanti di pesisir Banten. Pijar harapan meredup begitu kenyataan menghentakkan asa bahwa pelampung oranye itu bukan dari kapal pembawa delapan nyawa.
Setiap detik yang berdetak di posko pencarian adalah doa yang dipanjatkan dengan bibir bergetar, berharap mukjizat masih memiliki ruang di lautan yang luas ini.
Tragedi ini adalah cermin yang memantulkan wajah asli dari dedikasi jurnalistik. Kelima pewarta itu tahu bahaya yang mengintai dari kepundan Anak Krakatau, namun mereka memilih merawat nyali demi memenuhi hak publik untuk tahu.
Mereka tidak sedang bekerja; mereka sedang mengabdi. Hingga Jumat ini, ketika Anak Krakatau masih terbatuk dan laut belum juga memberikan jawabannya, delapan manusia luar biasa itu masih dalam pencarian. Di dermaga dan di ruang-ruang doa, kita semua masih tegak berdiri, menolak menyerah, menanti angin dan gelombang membawa mereka pulang.
(red)
Pandeglang – Gelombang tinggi mencapai 4 meter dan tiupan angin kencang menerjang Perairan Selat Sunda,
Baca Selengkapnya
Pandeglang – Tim SAR Gabungan memperluas area pencarian speed boat yang hilang kontak di perairan
Baca Selengkapnya
Pandeglang – Rombongan jurnalis hilang kontak saat melakukan perjalanan laut dari Dermaga Pagedongan, Carita, menuju
Baca Selengkapnya
Jakarta – Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta menghentikan sementara operasional penerbangan akibat ancaman sebaran abu vulkanik
Baca Selengkapnya
Serang – Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda kembali mengalami rangkaian erupsi menerus
Baca Selengkapnya
Serang – Subdirektorat III Tindak Pidana Korupsi Ditreskrimsus Polda Banten membongkar skandal dugaan korupsi pengajuan
Baca Selengkapnya
Serang – Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Banten membongkar sindikat spesialis pencurian kendaraan roda empat jenis
Baca Selengkapnya
SERANG — Penyajian menu ayam yang masih mentah dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di
Baca Selengkapnya
Serang – Tim Subdit III Ditresnarkoba Polda Banten membongkar jaringan peredaran narkotika jenis sabu di
Baca Selengkapnya