Subsidi BBM Tepat Sasaran?
28 Agustus 2022
Serang - Mendukung pemerintah agar secepatnya mengatur tata kelola dan distribusi harga BBM
28 Agustus 2022
Serang - Mendukung pemerintah agar secepatnya mengatur tata kelola dan distribusi harga BBM
Serang – Mendukung pemerintah agar secepatnya mengatur tata kelola dan distribusi harga BBM didasarkan atas pertimbangan rasa keadilan bagi seluruh warga negara
Subsidi BBM yang selama ini diperuntukan bagi masyarakat umum berpenghasilan rendah malah secara faktual tersalurkan dan dinikmati oleh orang kaya, hal ini harus menjadi pertimbangan utama untuk diatur ulang atau dihentikan.
Bahkan BBM jenis Pertamax sekalipun ternyata pemerintah “terpaksa” memberikan subsidi Rp.4.800/liter untuk mengimbangi tekanan kenaikan harga minyak dunia diluar proyeksi APBN tahun 2022 dan proyeksi Energy Information Administration (EIA), hal demikian sebagaimana disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (26/8/2022)
Jadi secara terbuka mobil mobil mewah dalam berbagai jenisnya yang menggunakan Pertamax pun menikmati subsidi pemerintah, padahal tentu pemilik mobil mobil mewah tersebut berkategori orang kaya yang dipandang berkemampuan secara ekonomi tidak boleh menikmati subsidi, oleh karena itu penting dukungan kepada pemerintah untuk mengambil langkah kebijakan penghentian subsidi BBM dimaksud dan mengalihkan subsidi ke sektor lain
Pemerintah tidak perlu ragu menaikan harga BBM dengan cara mencabut subsidi agar tepat sasaran sehingga subsidi BBM yang menjadi beban berat APBN bisa digunakan untuk sektor lain yang lebih rasional dan berkeadilan dinikmati kelompok tidak mampu, seperti untuk beasiswa dan atau di sektor pendidikan, subsidi bagi pemeliharaan kesehatan, pengembangan pondok pesantren, seni dan budaya berwawasan kebangsaan Indonesia.
Sejatinya negara harus menanggung beban berat kebutuhan warganya tetapi bukan harus diterima dinikmati oleh kelompok kaya raya, melainkan bantuan subsidi diperuntukan bagi kesejahteraan kelompok mustad’afin
Sekira 500 an triliyun APBN hanya untuk subsidi BBM saja, jika tidak segera dilakukan pembatasan maka tentu akan berdampak lebih buruk bagi negara, oleh karena itu subsidi BBM harus dicabut, itu artinya harga BBM harus naik, dalam rangka menyelamatkan keuangan negara untuk dialihkan ke sektor lain yang lebih produktif.
Efesiensi dari total penghentian BBM subsidi dan lain lain sekira 100 triliun saja pertahun misalnya terbayangkan pemerataan pembangunan sampai pelosok desa cepat tercapai.
Pahit memang mendengar harga BBM naik, tetapi kenaikan tersebut harus dipandang dari sudut pemerataan dan menyesuaikan dengan tujuan peruntukannya, maka tentu secara rasional dapat diterima, stop subsidi BBM alihkan untuk sektor pendidikan, kesehatan, dan beasiswa.
Amas Tadjuddin
Pemerhati Sosial dan Budaya
(red)
Serang – Banyak orang memahami pendidikan hanya sebagai angka di rapor, peringkat kelas, atau hasil
Baca Selengkapnya
Serang – Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir 2025 tidak lagi
Baca Selengkapnya
Serang – Kota Serang, sebagai ibu kota Provinsi Banten, saat ini tengah menghadapi krisis identitas
Baca Selengkapnya
Serang – Pemikiran Adam Smith kerap dipuji sebagai fondasi ekonomi modern. Namun, menjadikannya rujukan utama
Baca Selengkapnya
Serang – Cesium-137, sebagai isotop radioaktif buatan yang berasal dari aktivitas nuklir dan pencemaran industri,
Baca Selengkapnya
Serang – Banjir yang kembali melanda berbagai wilayah di Sumatra bukan sekadar bencana alam, melainkan
Baca Selengkapnya
Serang – Di tengah meningkatnya tuntutan pelayanan publik yang cepat, transparan, dan profesional, kualitas kinerja
Baca Selengkapnya
Serang – Adam Smith sering dianggap sebagai tokoh yang mendorong individualisme ekstrem. Namun, karya-karyanya justru
Baca Selengkapnya
Serang – Indonesia membutuhkan peningkatan mental dan fisik untuk menghadapi pergeseran zaman yang cepat. Dalam
Baca Selengkapnya
Cilegon – Polemik seputar Bandara Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Sulawesi Tengah belakangan ini
Baca Selengkapnya