a person's hand holding a two thousand rupiah banknote from Indonesia

Bagikan

Cilegon – Menjelang akhir masa jabatannya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat mengutarakan kekhawatirannya terkait peredaran uang yang makin kering, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di kisaran 5%. Kekhawatiran ini didasari oleh banyaknya instrumen, seperti Surat Berharga Negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), yang diterbitkan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan BI.

Ketakutan Jokowi terbukti menjadi kenyataan di tahun 2024. Likuiditas menjadi salah satu perhatian utama bagi para bankir. Hal ini diperparah dengan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,25% pada Rapat Dewan Gubernur April 2024.

Di tengah kondisi suku bunga tinggi yang diperkirakan akan bertahan lama, persaingan untuk mendapatkan dana semakin ketat. Hal ini diakui oleh Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Sunarso.

Meskipun demikian, Sunarso memastikan bahwa BRI masih memiliki ruang likuiditas yang cukup untuk ekspansi kredit. BRI akan tetap menjaga rasio kredit terhadap simpanan (LDR) dan tidak akan mengerem penyaluran kredit.

KOMENTAR