Bagikan

Jakarta – Tumpukan utang PT Krakatau Steel (Persero) Tbk menjadikan perusahaan tersebut terancam bangkrut. Utang perseroan membuat perusahaan mau tidak mau harus membayar utang pada akhir tahun ini.

Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan kemungkinan PT Krakatau Steel bangkrut dalam waktu dekat. Ancaman kebangkrutan itu jika 3 langkah yang disebut Erick tak berhasil.

Erick mengungkapkan ancaman kebangkrutan itu pada rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI pada Kamis (2/12/2001). Ada 3 langkah yang harus dijalankan perusahaan plat merah dengan kode emiten KRAS itu jika tak ingin bangkrut.

“Untuk Krakatau Steel ini memang ada tiga langkah, problem-nya langkah ketiga ini macet. Ada dua restrukturisasi yang harus dijalankan Krakatau Steel, satu negosiasi ulang dengan POSCO ini juga nggak mudah. Tapi memang salah satunya yang sekarang ini krusial, kalau ketiga gagal, kedua gagal, dan pertama gagal maka Desember ini (Krakatau Steel) bisa default,” kata Erick seperti dikutip detikcom, Sabtu (4/12/2021).

Rupanya, Krakatau Steel tak ingin bangkrut sehingga pada Jumat, 24 Desember 2021, perusahaan telah memenuhi kewajiban penyelesaian utang Tranche B sebesar Rp2,7 triliun. Krakatau Steel dapat menyelesaikan fasilitas Working Capital Bridging Loan (WCBL) yang sebesar USD200 juta kepada tiga bank milik pemerintah yaitu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

“Sesuai dengan perjanjian kredit restrukturisasi, Krakatau Steel telah melakukan pembayaran atas outstanding fasilitas kredit yang sebesar USD200 juta yang jatuh tempo pada bulan Desember 2021,”kata Direktur Keuangan Krakatau Steel, Tardi melalui keteranga resmi, Senin (27/12/2021).

Pasca penandatanganan perjanjian restrukturisasi pada Januari 2020, Krakatau Steel telah membayar utang sebesar USD30,4 juta (Rp437 miliar) yang terdiri dari utang Tranche A hasil kesepakatan restrukturisasi utang sebesar USD17,4 juta (Rp250 miliar) dan cicilan utang kepada Commerzbank USD13 juta (Rp187 miliar). Sehingga di tahun 2021 Krakatau Steel telah membayar utang sebesar Rp3,2 triliun.

 

“Sumber pembayaran utang ini diperoleh dari internal cashflow perusahaan atas hasil kinerja Krakatau Steel yang semakin membaik pasca restrukturisasi,” tambah Tardi.

Lebih lanjut, Tardi menuturkan dengan semua upaya yang telah dilakukan oleh manajemen selama ini dan dengan dukungan Kementerian BUMN, maka kinerja KS ke depan akan semakin baik.

(qbl/red)

KOMENTAR