Naik Rp 17 Miliar, Belanja Tenaga Ahli Pemprov Banten Dilaporkan ke BPK
3 Agustus 2026
Serang – Barisan Milenial Banten melaporkan pengelolaan Belanja Jasa Tenaga Ahli Pemerintah Provinsi Banten Tahun
3 Agustus 2026
Serang – Barisan Milenial Banten melaporkan pengelolaan Belanja Jasa Tenaga Ahli Pemerintah Provinsi Banten Tahun
Serang – Barisan Milenial Banten melaporkan pengelolaan Belanja Jasa Tenaga Ahli Pemerintah Provinsi Banten Tahun Anggaran 2024, 2025, dan 2026 ke Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI).
Pengaduan tersebut disampaikan sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam mengawal pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) agar dilaksanakan sesuai prinsip efektivitas, efisiensi, ekonomis, transparansi, dan akuntabilitas sebagaimana diamanatkan dalam peraturan perundang-undangan.
Ketua Umum Barisan Milenial Banten, Sandra Permana, mengatakan masyarakat Banten sudah terlalu lama disuguhi isu-isu yang kontraproduktif dan tidak menyentuh kepentingan publik.
“Publik lebih sering disibukkan dengan isu asmara pejabat maupun anak pejabat yang bertemu idol K-Pop. Padahal ada persoalan yang jauh lebih penting untuk diawasi bersama, yaitu bagaimana uang rakyat dibelanjakan melalui APBD,” kata Sandra, Senin (3/8/2026).
Sandra mengatakan, berdasarkan hasil penelusuran terhadap dokumen APBD Pemerintah Provinsi Banten, Belanja Jasa Tenaga Ahli menunjukkan tren peningkatan selama tiga tahun terakhir. Pada Tahun Anggaran 2024 dialokasikan sekitar Rp38 miliar, kemudian meningkat menjadi sekitar Rp52,38 miliar pada Tahun Anggaran 2025, dan kembali meningkat menjadi sekitar Rp55,47 miliar pada Tahun Anggaran 2026. Dengan demikian, dalam kurun waktu dua tahun terjadi peningkatan anggaran sekitar Rp17 miliar.
Menurut Sandra, peningkatan tersebut perlu memperoleh perhatian karena terjadi pada saat pemerintah pusat mendorong efisiensi belanja melalui Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025.
Namun demikian, Barisan Milenial Banten menegaskan bahwa pengaduan tersebut bukan merupakan tuduhan adanya penyimpangan maupun kerugian negara.
“Kami tidak datang untuk menuduh siapa pun. Kami justru meminta BPK menjalankan kewenangannya untuk memastikan apakah penggunaan anggaran tersebut telah memenuhi prinsip efektivitas, efisiensi, transparansi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Banten,” katanya.
Berdasarkan penelusuran awal terhadap Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP) LKPP, Belanja Jasa Tenaga Ahli tersebar di berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Sebagai contoh, pada Dinas Kesehatan ditemukan dua paket Tenaga Ahli Operator Komputer dengan nilai masing-masing sebesar Rp289.380.000 dan Rp290.016.000.
Di Dinas Komunikasi dan Informatika ditemukan sedikitnya sembilan paket pekerjaan yang meliputi penyusun konten, penyusun Majalah Menara Banten, TA Non Sertifikat, dan berbagai tenaga ahli lainnya.
Sementara itu, pada Dinas Kepemudaan dan Olahraga ditemukan pengadaan tenaga ahli operator komputer, desain grafis, surveyor, serta pengemudi.
Adapun pada Biro Administrasi Pimpinan ditemukan pengadaan tenaga ahli untuk penulis naskah, penyunting naskah, penulis konten grafis, dan penulis konten video.
Menurut Barisan Milenial Banten, beragamnya jenis pekerjaan tersebut perlu diuji lebih lanjut apakah benar-benar membutuhkan tenaga ahli dari luar organisasi atau masih dapat dilaksanakan oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang telah direkrut Pemerintah Provinsi Banten.
Selain itu, hasil penelusuran awal juga menunjukkan bahwa sebagian besar paket Belanja Jasa Tenaga Ahli menggunakan metode Penunjukan Langsung. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa setiap penunjukan telah didasarkan pada analisis kebutuhan yang memadai, kompetensi yang sesuai, serta bebas dari benturan kepentingan.
Melalui pengaduan ini, Barisan Milenial Banten meminta BPK RI Perwakilan Provinsi Banten melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap pengelolaan Belanja Jasa Tenaga Ahli Pemerintah Provinsi Banten Tahun Anggaran 2024–2026, mulai dari aspek perencanaan, analisis kebutuhan, penggunaan metode Penunjukan Langsung, kompetensi tenaga ahli, pelaksanaan pekerjaan, hingga manfaat yang dihasilkan dari penggunaan anggaran tersebut.
Barisan Milenial Banten meyakini bahwa pemeriksaan tersebut akan memberikan kepastian kepada publik mengenai kualitas tata kelola penggunaan APBD sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat prinsip transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola pemerintahan yang baik di Provinsi Banten.
Pandeglang – Dewan Ambalan Fatahillah-Cut Meutia pangkalan SMAN 4 Pandeglang sukses menggelar kegiatan Tamu ke
Baca Selengkapnya
Serang– Perusahaan peleburan timbal PT Genesis Regeneration Smelting (PT GRS) didakwa melakukan pencemaran limbah bahan
Baca Selengkapnya
Banten – Gempa magnitudo 5,2 berpusat di Bayah, Banten terjadi pada Jumat (18/9/2026) malam. Gempa
Baca Selengkapnya
Pandeglang – Upaya pencarian dan pertolongan terhadap 5 jurnalis, 2 ABK, dan 1 pemandu kapal
Baca Selengkapnya
Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan delapan orang sebagai tersangka kasus dugaan suap dan
Baca Selengkapnya
Pandeglang – Tim SAR gabungan memutuskan memperpanjang operasi pencarian delapan korban speed boat yang mengalami
Baca Selengkapnya
Bali – PT PLN Indonesia Power UBP Banten 1 Suralaya memborong tujuh penghargaan dalam ajang
Baca Selengkapnya
Cilegon – Tiga unit rumah toko (ruko) peralatan pabrik di Lingkungan Tegal Tong RT 01
Baca Selengkapnya
Jakarta – Peristiwa gempa Kepulauan Seribu bermagnitudo (M) 5,9 mengguncang wilayah perairan DKI Jakarta pada
Baca Selengkapnya
Pandeglang – Selat Sunda kini bukan sekadar bentangan air yang memisahkan dua pulau; ia menjelma
Baca Selengkapnya