Asia-Pasifik dalam Cengkraman Badai Siklon: Mengapa Wilayah Ini Jadi Episentrum dan Pemicu Banjir Dahsyat?
16 Desember 2025
Serang - Badai siklon tropis secara konsisten menjadi ancaman serius bagi wilayah Asia dan Pasifik,
16 Desember 2025
Serang - Badai siklon tropis secara konsisten menjadi ancaman serius bagi wilayah Asia dan Pasifik,
Serang – Badai siklon tropis secara konsisten menjadi ancaman serius bagi wilayah Asia dan Pasifik, seringkali menjadi biang keladi di balik bencana banjir yang melumpuhkan. Wilayah ini, yang membentang dari Samudra Hindia hingga Pasifik Barat, secara geografis dan meteorologis memang merupakan jalur utama bagi pembentukan dan pergerakan sistem cuaca ekstrem ini. Fenomena ini tidak hanya menyebabkan kerusakan infrastruktur dan kerugian ekonomi, tetapi juga merenggut ribuan nyawa setiap tahunnya.
Penyebab Asia-Pasifik Menjadi Jalur Langganan Siklon Tropis
Prevalensi badai siklon di Asia dan Pasifik bukan tanpa alasan. Menurut Liputan6, wilayah ini memang sering menjadi jalur siklon tropis karena kondisi geografis dan atmosfer yang mendukung. Pembentukan siklon tropis memerlukan serangkaian kondisi spesifik yang banyak terpenuhi di perairan tropis kedua kawasan ini.
Pertama, suhu permukaan laut harus hangat, setidaknya 26,5 derajat Celsius, hingga kedalaman 60 meter. Air laut yang hangat ini menjadi sumber energi utama bagi siklon, memicu penguapan masif yang membentuk awan badai raksasa. Kedua, atmosfer harus dalam kondisi tidak stabil, memungkinkan terbentuknya awan Cumulonimbus, yang merupakan indikator aktivitas konvektif kuat dan penting untuk perkembangan siklon. Selain itu, kelembapan atmosfer yang relatif tinggi pada ketinggian sekitar 5 kilometer sangat esensial; atmosfer yang kering di tingkat menengah tidak akan mendukung perkembangan badai guntur dalam siklon.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah keberadaan pada jarak minimal sekitar 500 kilometer dari khatulistiwa. Meskipun jarang, siklon memang bisa terbentuk dekat ekuator, namun gaya Coriolis gaya yang membelokkan arah angin karena rotasi bumi cukup lemah di dekat garis khatulistiwa, sehingga mempersulit pembentukan pusaran yang teratur. Terakhir, diperlukan gangguan atmosfer dekat permukaan bumi berupa angin yang berpusar disertai pumpunan angin, serta perubahan kondisi angin terhadap ketinggian yang tidak terlalu besar. Perubahan angin yang signifikan pada ketinggian dapat mengacaukan proses perkembangan badai. Kondisi-kondisi inilah yang menjadikan Samudra Hindia dan Pasifik Barat sebagai “dapur” siklon tropis global.
Siklon Tropis dan Bencana Banjir yang Mengintai
Dampak paling merusak dari siklon tropis adalah curah hujan ekstrem yang dibawanya, yang seringkali berujung pada banjir bandang dan tanah longsor. Saat siklon melintasi suatu wilayah, massa udara lembap yang diangkat ke atas oleh pusaran angin akan mengembun menjadi awan tebal dan menjatuhkan hujan dalam jumlah yang luar biasa besar. Curah hujan yang tidak biasa ini membuat sejumlah wilayah di Indonesia, Malaysia, dan Thailand mengalami banjir parah dan longsor di berbagai titik.
Beberapa waktu belakangan, Asia Tenggara telah berduka akibat serangkaian badai siklon tropis dahsyat. Siklon tropis seperti Senyar, Koto, dan Ditwah telah menerjang kawasan ini, memicu curah hujan ekstrem yang mengubah permukiman menjadi lautan lumpur dan merenggut ratusan hingga ribuan nyawa. Bahkan, Indonesia, yang secara geografis dianggap kurang rawan siklon tropis karena berada di dekat ekuator, kini semakin sering menghadapi ancaman bibit siklon tropis yang memicu cuaca ekstrem, termasuk banjir dan longsor di Sumatera.
Peran Perubahan Iklim dalam Intensitas Siklon
Krisis iklim global diyakini memperparah bencana di Asia Tenggara, termasuk meningkatkan intensitas siklon tropis dan menyebabkan banjir bandang. Pemanasan suhu atmosfer akibat perubahan iklim membuat udara dapat menampung lebih banyak uap air. Kondisi ini secara langsung meningkatkan peluang hujan ekstrem saat badai terbentuk, sehingga curah hujan dari siklon tercatat lebih intens dibandingkan kondisi normal.
Para ahli mencatat bahwa suhu laut yang naik akibat perubahan iklim membuat siklon di Asia menjadi semakin parah. Interaksi dua siklon tropis, seperti yang terjadi baru-baru ini di Indonesia, juga merupakan unusual event yang dipicu oleh perubahan iklim. Selain itu, faktor lokal seperti urbanisasi yang cepat dan deforestasi luas di banyak wilayah turut memperburuk situasi. Hujan deras dengan cepat berubah menjadi banjir besar yang sulit diserap tanah, memperparah dampak siklon tropis.
(drm/red)
Jakarta – PLN Indonesia Power UBP Banten 1 Suralaya kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat
Baca Selengkapnya
Serang – Mahasiswa Universitas Pamulang melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di SMAN 1 Ciomas
Baca Selengkapnya
Cilegon – Pabrik kimia PT Merak Chemicals Indonesia (MCCI) di Gerem, Cilegon meledak. Suara ledakan
Baca Selengkapnya
Cilegon – Semangat persatuan dan nasionalisme terus digaungkan sebagai wujud komitmen dalam membangun bangsa yang
Baca Selengkapnya
Lebak – Suami Anggota DPRD Provinsi Banten dari Fraksi PDIP Emut Mulyanah yakni Agus Wisata
Baca Selengkapnya
Cilegon – Pengurus Kota (Pengkot) Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin) Kota Cilegon periode 2026-2030
Baca Selengkapnya
Cilegon – Ketua DPRD Kota Cilegon, Rizki Khairul Ichwan menyoroti kondisi sistem pemantauan kualitas udara
Baca Selengkapnya
Cilegon – Dokter spesialis paru RS Eka Hospital, dr. Adhi Nugroho Latief mengingatkan pentingnya skrining
Baca Selengkapnya
Serang – Ditreskrimum Polda Banten berhasil meringkus komplotan maling sepeda motor di Cikande, Serang, Banten.
Baca Selengkapnya
Cilegon – PLN Indonesia Power UBP Suralaya Raih 6 Penghargaan Internasional di Ajang Global CSR &
Baca Selengkapnya