Ketimpangan Sosial dan Tantangan Pembangunan di Banten: Cermin Kegagalan Struktur Sosial

Ketimpangan Sosial dan Tantangan Pembangunan di Banten: Cermin Kegagalan Struktur Sosial

27 Oktober 2025

Serang - Banten dikenal sebagai daerah penyangga ibu kota yang memiliki banyak sumber daya potensial

Ketimpangan Sosial dan Tantangan Pembangunan di Banten: Cermin Kegagalan Struktur Sosial

Serang – Banten dikenal sebagai daerah penyangga ibu kota yang memiliki banyak sumber daya potensial dalam bidang industri, pariwisata, dan pertanian. Namun, dalam perkembangan perekonomian masih terdapat perbedaan sosial yang signifikan antara wilayah utara dan selatan. Ketidaksamaan dalam pembangunan di daerah seperti Tangerang dan Lebak menunjukkan bahwa modernisasi tidak selalu menghasilkan kesejahteraan yang sama.

Fenomena ini dapat dilihat dari perspektif teori sosial, yang menyatakan bahwa struktur sosial yang tidak selaras menyebabkan ketidakadilan sosial di dalam masyarakat. Banten, provinsi muda yang memiliki banyak potensi, ternyata memiliki paradoks sosial. Kawasan, seperti Tangerang, telah menjadi pusat perekonomian dan bisnis utara yang berkembang pesat, namun orang-orang di wilayah selatan masih hidup dalam kemiskinan dan kesulitan untuk mencapai kemajuan.

Tulisan ini berusaha mengulas ketimpangan sosial di Banten melalui perspektif teori sosial sebagai upaya memahami akar masalah dan solusi ke depan.

Realitas Sosial di Lapangan

Bagian utara Banten, terutama Tangerang Raya, mengalami pertumbuhan pesat dengan kawasan industri, infrastruktur modern, dan akses pendidikan yang luas. Di sisi lain, masyarakat di bagian selatan, seperti Pandeglang dan Lebak, masih menghadapi masalah kemiskinan, kekurangan infrastruktur dasar, dan pendidikan yang tidak merata.

Angka kemiskinan di Lebak dan Pandeglang terus menjadi yang tertinggi di Banten, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Banten. Tingkat kemiskinan di Kabupaten Lebak mencapai 8,64%, jauh di atas Kota Tangerang Selatan yang hanya 2,12%, menurut data BPS 2024, menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Perbedaan ini menunjukkan ketimpangan struktural yang terus berlanjut.

Analisis Menggunakan Teori Sosial

Menurut teori struktural fungsional, ketimpangan sosial menunjukkan fungsi sosial yang tidak seimbang. Sistem sosial seharusnya dikelola oleh pemerintah daerah dan pusat, tetapi ketika sebagian wilayah tertinggal, sistem menjadi tidak berfungsi. Sementara masyarakat seharusnya bekerja sama secara harmonis untuk menjaga stabilitas sosial, fungsi ini tidak berjalan dengan baik di Banten.

Menurut teori konflik Karl Marx, ketimpangan ini disebabkan oleh kelas ekonomi tertentu yang menguasai kebijakan dan sumber daya. Masyarakat pedesaan Banten tertinggal dalam distribusi hasil pembangunan, sementara daerah perkotaan menjadi pusat akumulasi modal. Dalam situasi seperti ini, masyarakat di wilayah selatan sering kali hanya menjadi penyedia tenaga kerja murah tanpa mendapatkan manfaat finansial yang sebanding.

Jika dilihat dari teori pembangunan modernisasi, Banten menghadapi tantangan klasik yaitu pembangunan yang hanya berfokus pada sektor industri dan urbanisasi tanpa memperhatikan keseimbangan wilayah. Hal ini mengakibatkan kesenjangan yang semakin melebar antara wilayah utara yang modern dan selatan yang tradisional.

Dampak Sosial dan Budaya

Ada dampak ekonomi, sosial, dan budaya dari ketimpangan sosial ini. Di wilayah tertinggal, masyarakat cenderung mengalami keterpinggiran sosial atau pengecualian sosial karena sulit mendapatkan akses ke pendidikan, pekerjaan yang layak, dan layanan publik. Hal ini dapat menyebabkan ketegangan sosial, urbanisasi yang berlebihan, dan lebih banyak lagi kesenjangan antar kelompok masyarakat. Selain itu, nilai sosial di masyarakat pedesaan berubah karena tekanan ekonomi dan migrasi ke kota besar. Solidaritas tradisional mereka mulai hilang.

Upaya dan Solusi

Kebijakan pembangunan yang lebih berkeadilan diperlukan untuk mengatasi masalah ini. Pemerintah Provinsi Banten harus meningkatkan investasi di bidang infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan di wilayah selatan. Masyarakat lokal dilibatkan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan melalui pendekatan teori pembangunan partisipatif yang relevan.

Selain itu, kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, dan perguruan tinggi dapat mendorong inovasi sosial yang berfokus pada kesejahteraan masyarakat daripada pertumbuhan ekonomi. Untuk mencegah ketimpangan semakin melebar, pemerataan infrastruktur dan peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah langkah penting.

Kasus ketimpangan sosial yang terjadi di Banten menunjukkan bagaimana teori sosial berfungsi untuk menjelaskan dinamika masyarakat Indonesia. Tanpa pemerataan sosial, pembangunan yang hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi akan menciptakan perbedaan antara yang kaya dan miskin, dan antara pusat dan pinggiran. Selain itu, ketimpangan sosial yang terlihat di Banten menunjukkan ketidakmampuan struktur sosial untuk menjaga kesejahteraan bersama. Sebagai mahasiswa, kita harus melihat realitas sosial ini sebagai tantangan moral dan intelektual untuk berkontribusi pada transformasi sosial menuju masyarakat yang lebih adil dan sejahtera. Sudah saatnya kebijakan pembangunan Banten fokus pada manusia daripada angka ekonomi.

 

Penulis: Ila Nurfadillah

Mahasiswa Program Studi Administrasi Negara Universitas Pamulang Serang 

Dosen pembimbing : Angga Rosidin S.I.P., M.A.P

Kepala Program Studi : Zakaria Habib Al-Razie S.IP., M.SOS

Pendidikan Bukan Soal Nilai, Tapi Pembentukan Karakter
Pendidikan Bukan Soal Nilai, Tapi Pembentukan Karakter

Serang – Banyak orang memahami pendidikan hanya sebagai angka di rapor, peringkat kelas, atau hasil

Baca Selengkapnya
Banjir Sumatera: Alarm Keras Bagi Pemerintah
Banjir Sumatera: Alarm Keras Bagi Pemerintah

Serang – Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir 2025 tidak lagi

Baca Selengkapnya
Menata Wajah Ibu Kota: Dilema PKL dan Hak Pejalan Kaki di Kota Serang
Menata Wajah Ibu Kota: Dilema PKL dan Hak Pejalan Kaki di Kota Serang

Serang – Kota Serang, sebagai ibu kota Provinsi Banten, saat ini tengah menghadapi krisis identitas

Baca Selengkapnya
Ekonomi Kerakyatan “Ala” Bung Hatta Lebih Relevan bagi Indonesia daripada Kapitalisme Adam Smith
Ekonomi Kerakyatan “Ala” Bung Hatta Lebih Relevan bagi Indonesia daripada Kapitalisme Adam Smith

Serang – Pemikiran Adam Smith kerap dipuji sebagai fondasi ekonomi modern. Namun, menjadikannya rujukan utama

Baca Selengkapnya
Kontaminasi Cesium-137 pada Udang Beku: Alarm Bagi Sistem Keamanan Pangan Indonesia
Kontaminasi Cesium-137 pada Udang Beku: Alarm Bagi Sistem Keamanan Pangan Indonesia

Serang – Cesium-137, sebagai isotop radioaktif buatan yang berasal dari aktivitas nuklir dan pencemaran industri,

Baca Selengkapnya
Banjir Sumatra dalam Pemikiran Adam Smith: Ketika Kepentingan Pasar Kehilangan Kendali Moral
Banjir Sumatra dalam Pemikiran Adam Smith: Ketika Kepentingan Pasar Kehilangan Kendali Moral

Serang – Banjir yang kembali melanda berbagai wilayah di Sumatra bukan sekadar bencana alam, melainkan

Baca Selengkapnya
Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Produktivitas Pegawai di Dinas Perhubungan Kota Serang
Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Produktivitas Pegawai di Dinas Perhubungan Kota Serang

Serang – Di tengah meningkatnya tuntutan pelayanan publik yang cepat, transparan, dan profesional, kualitas kinerja

Baca Selengkapnya
Relevansi Filsafat Adam Smith Bagi Kebijakan Ekonomi Indonesia Modern
Relevansi Filsafat Adam Smith Bagi Kebijakan Ekonomi Indonesia Modern

Serang – Adam Smith sering dianggap sebagai tokoh yang mendorong individualisme ekstrem. Namun, karya-karyanya justru

Baca Selengkapnya
Membangun Indonesia dari Nalar Sosial: Tantangan dan Harapan Baru
Membangun Indonesia dari Nalar Sosial: Tantangan dan Harapan Baru

Serang – Indonesia membutuhkan peningkatan mental dan fisik untuk menghadapi pergeseran zaman yang cepat. Dalam

Baca Selengkapnya
Ironi Kedaulatan di Tanah Nikel: Saat “Bandara Ilegal” IMIP Menguak Keresahan Negara di Balik Karpet Merah Investor Asing
Ironi Kedaulatan di Tanah Nikel: Saat “Bandara Ilegal” IMIP Menguak Keresahan Negara di Balik Karpet Merah Investor Asing

Cilegon – Polemik seputar Bandara Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Sulawesi Tengah belakangan ini

Baca Selengkapnya