Bagikan

Jakarta – Cendekiawan Muslim Muhammad Quraish Shihab menilai penyebutan koruptor bagi pelaku korupsi terlalu halus. Lalu, apa sebutan yang pantas bagi maling uang rakyat tersebut?

Ahli tafsir Alquran itu menyatakan sebutan pencuri dianggapnya lebih pantas daripada koruptor. Dia menganggap ada ketidak adilan penyebutan terhadap pelaku korupsi.

“Kenapa orang miskin yang mengambil bukan haknya dinamai pencuri, sementara pejabat atau pegawai, kita namai koruptor. Dia itu pencuri,” ujarnya seperti dikutip dari laman NU Online, Senin (30/8/2021).

Quraish menilai, koruptor tidak mempunyai rasa malu, maka perlakukan yang pantas bagi pelaku korupsi adalah dipermalukan. Banyak fakta menunjukkan para koruptor masih berlenggang-kangkung, bergelak-tawa di masa hukumannya. Tidak cukup dengan hanya mengenakan pakaian kuning dan dihukum saja, melainkan harus dipermalukan sampai mereka sadar.

“Jadi intinya koruptor itu harus dipermalukan, itu satu,” kata dia.

Menurutnya, dampak perilaku korup dilakukan para pencuri uang rakyat tersebut juga berlaku pada anak keturunannya. Bahkan, menurut penulis Tafsir Al-Misbah ini, tindakan penyadaran harus dengan memiskinkan anggota keluarga, bukan sekadar mengambil kembali apa yang telah dicuri. Jika tindakan itu tidak dilakukan, maka dipastikan terpidana tetap bisa merasakan keuntungan dari beberapa harta yang diinvestasikannya.

“Katakanlah (harta hasil korupsi) masuk ke bank diinvestasikan, kan ada untungnya. Jadi keuntungan yang diperoleh, walaupun bukan korupsi, ambil juga sehingga dia jadi miskin,” tuturnya.

Sebuah data menunjukkan, dari 2004-Juli 2020 tindak pidana korupsi di Indonesia sebanyak 1.032 kasus dengan jenis perkara korupsi yang kerap dilakukan yaitu penyuapan sebanyak 683, pengadaan barang atau jasa sebanyak 206, dan beberapa perkara lainnya seperti penyalahgunaan anggaran dan perizinan.

(red)

KOMENTAR