BRIN dan PT Indonesia Power Bakal Produksi Garam Tanpa Lahan Garapan, Caranya?
16 Desember 2021
Cilegon - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan PT Indonesia Power mengembangkan teknologi
16 Desember 2021
Cilegon - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan PT Indonesia Power mengembangkan teknologi
Cilegon – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan PT Indonesia Power mengembangkan teknologi produksi garam tanpa lahan. Inovasi ini diharapkan dapat menekan ketergantungan impor garam di Indonesia.
Inovasi ini memeanfaatkan air buangan di PLTU. Air buangan itu berawal dari air laut yang digunakan pada boiler pembangkit listrik untuk diubah menjadi air tawar melalui proses pemisahan kadar garam dan air tawar (desalinasi). Air tawar kemudian diisikan ke boiler untuk diubah menjadi uap panas agar turbin pembangkit listrik dapat bergerak. Proses desalinasi itu menyisakan air buangan karena PLTU hanya membutuhkan air tawar untuk menggerakkan turbin.
Proses desalinasi menyisakan air dengan kadar garam tinggi yang selama ini tidak diolah dan dibiarkan tanpa manfaat. Para peneliti dari BRIN mulai mengkaji dan melakukan inovasi agar air buangan bisa diolah menjadi garam industri yang memenuhi standar.
“Jadi yang kita lakukan untuk pengembangannya maka kita bisa memproduksi garam tanpa menggunakan lahan penggarapan, jadi menggunakan mesin di mana dari air laut itu kita bisa pisahkan garam dan air bersihnya,” kata Kepala Pusat Teknologi Sumberdaya Energi dan Industri Kimia BRIN, Hens Saputra kepada wartawan di Cilegon, Kamis (16/12/2021).
Prosesnya, air buangan (rejected brine) PLTU yang belum termanfaatkan itu diproses menggunakan mesin yang terdiri dari unit pretreatment, membrane, dan kristalizer. Rejected brine dimurnikan natrium klorida atau NaCl-nya terhadap mineral lain seperti Ca, Mg, Sulfat dan kandungan lain menggunakan membrane secara bertingkat mulai dari ultrafiltrasi, nanofiltrasi dan reverse osmosis.
“Jadi kita dapat dua produk sekaligus yaitu garam dan air bersih. Nah di sini keuntungannya proses di sini tidak tergantung dari cuaca dan musim, kalau di lahan kan berarti kalau musim hujan menurun,” jelasnya.
Selain menghasilkan garam dengan kualitas yang sesuai dengan kebutuhan garam industri chlor alkali plant (CAP), peralatan ini menghasilkan air bersih atau air tawar yang siap digunakan dan dapat dikonsumsi. Dengan implementasi ini, peneliti berharap dapat menyelesaikan 2 masalah sekaligus, yakni teknologi ramah lingkungan yang dapat menghasilkan air minum untuk wilayah pesisir maupun untuk air proses industri serta menghasilkan garam yang dibutuhkan oleh industri CAP.
“Ini adalah merupakan mini pilot plant, riset yang harus dibuktikan desain anak bangsa, desain BPPT bekerja sama dengan PT Indonesia Power untuk divalidasi tentang biaya operasi dan perekonomiannya dan sebagainya dan kita akan optimalisasi lagi supaya investasi yang kami desain 100.000 ton (garam) per tahun ini betul-betul sangat efektif dan efisien. Harapannya kita bisa mendapat data optimasi yang lebih baik,” tuturnya.
Sementara, Executive Vice President Riset Inovasi & Engineering PT Indonesia Power, Sapto Aji Nugroho mengatakan, pihaknya siap bekerja sama dengan BRIN untuk memastikan proyek itu bukan lagi menjadi percontohan namun bisa diproduksi massal.
“Jadi semnagatnya kan mengurangi impor garam dan ini merupakan program strategis nasional dan kami PT Indonesia Power bagian dari PLN Grup dan PLN Grup juga adalah bagian dari pemerintah . Kami sangat mendukung program strategis nasional ini dan kami akan terus berkoordinasi dengan BRIN untuk merealisasikan ini,” ujarnya.
Proyek percontohan pertama ini dikembangkan di PLTU Suralaya dengan target 100 ribu ton garam per tahun. Tujuan utama proyek inovasi ini adalah mengurangi ketergantungan garam impor. Sebab, permasalahan garam nasional adalah produksi dalam negeri belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan nasional dan kualitasnya di bawah SNI sebagai garam industri.
Produksi garam nasional sekitar 1 juta ton dan ada stok garam yang tidak terserap tahun lalu sekitar 738.000 ton. Permasalahannya adalah kualitas garam dalam negeri tidak dapat digunakan untuk industri, sehingga harus mengimpor sebesar 3 juta ton.
Sementara, pelaksanaan peresmian mini pilot plant di PLTU Suralaya itu dilaksanakan pada Rabu (15/12/2021). Pihak Kepolisian dari Ditpamobvit Polda Banten dipimpin Kompol Dodid tampak mengamankan jalannya acara hingga berakhir.
(qbl/red)
Jakarta – PLN Indonesia Power UBP Banten 1 Suralaya kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat
Baca Selengkapnya
Serang – Mahasiswa Universitas Pamulang melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di SMAN 1 Ciomas
Baca Selengkapnya
Cilegon – Pabrik kimia PT Merak Chemicals Indonesia (MCCI) di Gerem, Cilegon meledak. Suara ledakan
Baca Selengkapnya
Cilegon – Semangat persatuan dan nasionalisme terus digaungkan sebagai wujud komitmen dalam membangun bangsa yang
Baca Selengkapnya
Lebak – Suami Anggota DPRD Provinsi Banten dari Fraksi PDIP Emut Mulyanah yakni Agus Wisata
Baca Selengkapnya
Cilegon – Pengurus Kota (Pengkot) Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin) Kota Cilegon periode 2026-2030
Baca Selengkapnya
Cilegon – Ketua DPRD Kota Cilegon, Rizki Khairul Ichwan menyoroti kondisi sistem pemantauan kualitas udara
Baca Selengkapnya
Cilegon – Dokter spesialis paru RS Eka Hospital, dr. Adhi Nugroho Latief mengingatkan pentingnya skrining
Baca Selengkapnya
Serang – Ditreskrimum Polda Banten berhasil meringkus komplotan maling sepeda motor di Cikande, Serang, Banten.
Baca Selengkapnya
Cilegon – PLN Indonesia Power UBP Suralaya Raih 6 Penghargaan Internasional di Ajang Global CSR &
Baca Selengkapnya