Bagikan

Bandung – Di luar rencana dari rumah, karena tidak tahu, Ahad dua hari lalu, saya “terdampar” di sebuah kota sangat kecil, tapi bersih dan nyaman, berada di sebuah puncak gunung kecil di kawasan Bandung Selatan-Timur.

Di jalan Sukarno-Hatta yang padat pada pukul 07.15 WIB, saya jalan kaki satu jam ke arah timur Metro, diteruskan naik angkot ke Majalaya dengan ganti mobil dekat simpang tol ke Cirebon-Bandung.

Selesai salat tahiyatul masjid dan duha di Masjid Agung Majalaya yang bersih termasuk tempat wudu dan WC, juga setelah menyantap mi rebus, saya naik angkot menuju Paseh – kota kecil yang pernah ingin saya kunjungi beberapa waktu lalu.

Perjalanan dicapai sekitar 30 menit.
Ternyata Paseh hanya kecamatan biasa, cukup kecil dan tak cukup menarik. Rumah sekitar jalan raya tidak menunjukkan kebangkitan ekonomi seperti kiri-kanan jalan ke Pacet Selatan Ciparay itu.

Tapi jalan cukup mulus nyaman untuk berkendara. Begitu turun dari angkot, seorang tukang ojek menawari saya diantar ke Kamojang. Satu wilayah di selatan Bandung yang lebih dekat ke Garut.

Karena tertarik nama Kamojang yang lama sudah saya dengar, saya langsung oke dengan tarif Rp 25.000. Ke Kamojang tidak ada angkot. Bagi yang tidak bawa mobil, ojek adalah satu-satunya pilihan.

Majalaya-Paseh cukup mendaki, tapi masih mudah bagi kendaraan angkot. Tapi menuju Kamojang, jalan mendaki sangat terasa. Bahkan ada petunjuk supaya pengendara menggunakan gigi satu.

Tapi selain bagus, jalan juga lebar. Sebagiannya selebar jalan Sukarno-Hatta, dan kiri-kanan ditumbuhi pepohonan tinggi.

Tiba di wilayah Kamojang, sekitar 3 kilometer jalan mendaki habis, diganti jalan datar yang cantik. Di samping jalan mendatar. Di sini keindahan lingkungan sangat nampak. Jalan lebar, kiri kanan diisi bangunan tembok, tanaman menghijau dan halaman lebar. Teringat saya ketika melihat perkampungan di USA pertengahan 1980-an.

Pengojek terus membawa saya sampai mulai jalan menurun menuju Garut. Saya minta si Mang Ojek berhenti di sebuah masjid berseberangan dengan perkantoran yang sepi.

Saya jalan di halaman dan samping masjid sampai bagian belakang. Masjid yang baru direnovasi dua tahun terakhir ini, berukuran lebih kurang sama dengan masjid kita di Metro, juga dua lantai. Tapi bagian atasnya lebih besar, karena hanya menyisakan space kecil saja melihat imam di bawah.

Yang menarik lagi selain tempat wudu, WC yang cukup besar, bersih, dan bagus, tetapi itu karpetnya berkualitas tinggi, dengan warna-warni yang indah.

Ketika Jumatan, menurut anak muda yang tengah ngepel, masjid hampir penuh.
Agak heran sebab tidak ada kompleks perumahan selain sejumlah perkantoran.

Walau semula hanya sewa ojek untuk satu jalan, akhirnya saya carter sampai kembali ke tempat awal naik tadi. Tujuan berikutnya, ia saya ajak ke bagian gunung yang lebih tinggi lagi.

Selain jalanan besar dan mulus, kiri kanan dipenuhi pipa-pipa besar berdiameter satu meter yang banyak sekali. Sejak jalan datar di kiri-kanan jalan, terdapat banyak pipa berbagai ukuran selain yang ukuran besar. Dan itu memenuhi lingkungan sekitar tiga km itu. Di atas ada danau kecil dengan mengepulkan banyak asap dan menimbulkan bau belerang, walau tidak menyengat asap juga mengepul di beberapa tempat, walau ukurannya tidak besar.

Balik dari kawah kecil saya minta diantar mengunjungi Madrasah yang papan namanya ada di pinggir jalan.

Masuk melalui jalan rada kecil sekitar satu km saya ketemu Kep Sek dan sejumlah guru MA dan MTs. Muridnya masing 90 dan 80 murid saja. Sekolah dimulai pukul 07.00-12.00 WIB karena sulit nyari kendaraan, padahal perumahan berada jauh di bawah.
Sekolah menyediakan asrama tapi hanya baru untuk 20 orang.

Setelah ramah tamah dan saya bantu melalui KS untuk membeli buku perpustakaan bagi para murid, saya teruskan ke
objek wisata, Taman Wisata Air Panas. Jarak dari jalan raya sekitar saru km juga ke dalam. Ini wilayah nyaman untuk wisata bersama keluarga dan anak-anak.

Ada kolam besar dengan ribuan ikan warna-warni. Juga pengunjung bisa gunakan sepeda atau becal air yang menggunakan mesin.

Di dekat danau ada halaman luas, hijau, bersih, dan tersedia bangunan untuk buka bekal makanan. Restoran belum ada di tempat rekreasi yang baru lima tahun ini, kecuali kios makanan untuk anak-anak.

Selain danau ukuran sedang yang diisi ribuan ikan warna-warni dan beca air, melakui halaman cukup besar juga terdapat kolam air panas, musala, dan ruang main anak-anak untuk mandi bola. Di situ juga ada bangunan untuk membuka bekal makan siang para keluarga. Pendeknya, fasilitas wisata bersama keluarga dan anak-anak di Kamojang ini memadai.

Setelah salat zuhur yang agak telat, pukul 14.00 WIB di masjid besar Majalaya, pukul 17.05 tiba kembali di Metro, dan bergegas salat ashar, yang lagi-lagi agak terlambat.

Bagi yang belum ke Kamojang, bagus sekali membawa putera-puteri berwisata melihat sebagian kuasa Ilahi yang diperindah para hamba-Nya.

 

Penulis: DR Usep Fathuddin, tokoh Mathla’ul Anwar bermukim di Bandung.

 

(red)

KOMENTAR