Bagikan

Serang – Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg (SPIEF) dulunya dikenal sebagai “Davos” Rusia, mengacu pada Forum Ekonomi Dunia yang diadakan di Swiss setiap tahun. Namun, perang di Ukraina telah mengubah lanskap geopolitik dan perdagangan global secara signifikan. Acara tahunan ini, yang dulunya menjadi platform bagi Rusia untuk memamerkan ekonomi dan peluang investasinya kepada para pemimpin bisnis dan kepala negara Barat, kini menghadapi realitas baru.

Masa-masa ketika para pemimpin bisnis dan kepala negara Barat berbondong-bondong menghadiri SPIEF telah lama berlalu. Kini, Rusia mengalihkan fokusnya untuk menjalin hubungan baru dengan negara-negara yang tidak terpengaruh oleh sanksi Barat. Negara-negara di Asia, Amerika Latin, dan Afrika, serta negara-negara Eropa Timur seperti Slovakia dan Hongaria yang masih membeli minyak dan gas Rusia, menjadi target utama.

SPIEF 2024, dengan tema “Fondasi Dunia Multipolar – Pembentukan Area Pertumbuhan Baru,” menjadi upaya terbaru Rusia untuk menunjukkan ketahanan ekonominya di tengah sanksi internasional. Acara ini akan membahas berbagai topik, termasuk pembangunan Arktik Rusia, perluasan BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan), industri mobil Rusia, nilai-nilai keluarga, dan hubungan Rusia dengan Barat.

Terlepas dari sanksi Barat, ekonomi Rusia menunjukkan tanda-tanda adaptasi. Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi pertumbuhan ekonomi Rusia sebesar 3,2% pada tahun 2024, melampaui perkiraan untuk negara-negara maju lainnya. Konsumsi swasta dan investasi domestik di Rusia masih menunjukkan ketahanan, dan ekspor minyak dan komoditas ke negara-negara seperti India dan China, bersama dengan harga minyak yang tinggi, membantu mempertahankan pendapatan ekspor minyak Rusia.

KOMENTAR